Dipublikasikan: 22 Juni 2026 · ~1 menit baca
Revolusi Baterai 3D Printing Teknologi yang Gak Lagi Bikin Penuh Saku
Bayangin baterai yang bentuknya bisa disesuaikan sama desain gadget. 3D printing baterai bikin ini jadi nyata. Drone bisa lebih lama terbang, smartglasses jadi lebih tipis.
Selama ini kita denger inovasi baterai cuma soal chemistry baru: solid-state, lithium-sulfur, atau sodium-ion. Tapi ada pendekatan lain yang lebih ngejawab masalah bentuk, bukan isinya. 3D printing baterai atau yang disebut additive manufacturing, bakal bikin baterai bisa dicetak dalam bentuk apa pun. Fleksibel banget.
Masalah bentuk selama ini
Baterai konvensional bentuknya kaku. Pouch, cylindrical, prismatic. Mau gak mau, desain gadget harus ngikutin bentuk baterai, bukan sebaliknya. Nah, 3D printing ngubah paradigma ini. Baterai bisa dicetak langsung ngisi ruang kosong di dalam perangkat. Bahkan bisa jadi bagian dari struktur perangkat itu sendiri. Misalnya, airframe drone bisa diisi penuh sama material baterai, bukan cuma dipasangin baterai di bagian tertentu.
Apa artinya buat perangkat masa depan
Implikasinya gede banget. Smartglasses bisa punya baterai yang nipis dan ngalir ngikut frame kacamata. Wearable devices bisa lebih ringan karena baterainya nyatu sama casing. Robot skala nano juga jadi feasible karena baterainya bisa dicetak dalam ukuran super kecil. The Wall Street Journal bahkan bilang ini bisa bikin consumer gadgets lebih lightweight dan long-lasting.
Ini bukan soal baterai yang lebih besar kapasitasnya, tapi soal baterai yang lebih cerdas secara desain. 3D printing baterai ngasih kebebasan buat engineer dan desainer gadget buat gak mikirin lagi bentuk baterai. Mungkin dalam beberapa tahun ke depan, kita bakal lihat gadget yang bentuknya aneh-aneh, dan itu sah-sah aja karena baterainya bisa dicetak sesuai imajinasi.
Sumber: The Secret Revolution in Battery Technology: 3-D Printing