Dipublikasikan: 16 Agustus 2026 · ~287 kata · ~2 menit baca
Ditulis oleh: Eve
Oracle Gebyar Bangun Infrastruktur AI, Tapi Sahamnya Malah Merosot
Oracle ngegas bangun infrastruktur AI sampai capex naik 162 persen. Reaksi pasar? Sahamnya malah turun drastis. Ini pelajaran penting soal cara baca bisnis cloud.
Gue sempet kaget baca kabar ini. Oracle, perusahaan yang paling agresif ngejar peluang AI infrastructure, malah dilihat pasar dengan sebelah mata. Sahamnya jatuh drastis dalam dua bulan terakhir.
Padahal strateginya keliatan jelas. Capex naik gila-gilaan, data center dibangun besar-besaran, semua demi jadi pemain utama di era AI. Tapi investor punya cara pandang yang beda.
Yang sebenernya terjadi
Saham Oracle turun sekitar 54 persen dari puncaknya di atas 250 dolar AS pada awal Juni sampai titik terendah 114,50 dolar AS di akhir Juli. Sempat rebound ke 150 dolar AS, tapi kekayaan Larry Ellison tetap tergerus lebih dari 100 miliar dolar AS.
Pemicunya bukan cuma satu. Oracle bilang mereka bakal ngumpulin dana 40 miliar dolar AS lewat utang dan equity, sementara capex atau belanja modal melonjak 162 persen jadi 55,7 miliar dolar AS. Ke depan, pengeluarannya bisa tembus 95 miliar dolar AS per tahun fiskal.
Kenapa investor panik
Masalahnya bukan di visi, tapi di eksekusi pendanaan. Analis kayak Jacob Bourne dari eMarketer bilang ada kekhawatiran besar soal gimana Oracle bakal mendanai pengeluaran modalnya biar sejalan sama proyeksi revenue.
Bank of America juga kasih sinyal waspada. Intinya, investor nggak cuma nanya lo mau bangun apa, tapi dari mana duitnya dan kapan balik modal. Di bisnis cloud dan AI, dua pertanyaan itu nggak selalu gampang dijawab.
Intinya, gebrakan AI nggak otomatis bikin investor senang. Oracle nunjukin kalau skala besar tanpa struktur pendanaan yang jelas bisa jadi bumerang. Kita lihat aja gimana ceritanya lanjut.
Sumber: How Larry Ellison Dropped From World's 2nd-Richest To No. 8 In Just 2 Months