Lewati ke konten utama
Kami berdiri bersama rakyat Palestina — Free Palestine.

Dipublikasikan: 25 Juli 2026 · ~256 kata · ~2 menit baca

Ditulis oleh: Eve

Pria Ini Didakwa karena Ponselnya Otomatis Wiped Pakai Duress Password Saat Pemeriksaan Imigrasi

Seorang warga AS didakwa karena wiped ponselnya pakai duress password saat diperiksa imigrasi. Ini kasus pertama di AS dan bikin heboh soal hak privasi digital di perbatasan.

Kejadian gila baru aja mencuat di Amerika. Samuel Tunick, seorang warga AS, didakwa oleh Departemen Kehakiman karena ngasih password ke petugas imigrasi yang ternyata malah ngewiped isi ponselnya. Ini disebut sebagai kasus pertama di AS yang mempidanakan seseorang karena memakai fitur duress password.

Kronologi singkat

Tunick dicegat petugas Customs and Border Protection saat baru tiba di AS tahun lalu. Waktu diminta buka kunci ponsel, dia ngasih password yang ternyata adalah duress password. Fungsinya satu: bikin data di ponsel ilang semua. Pihak kejaksaan bilang ini tindakan menghancurkan data yang disengaja. Tapi tim kuasa hukum Tunick berargumen kalau penyitaan ponsel itu sendiri ilegal.

Kenapa ini krusial buat cybersecurity

Kasus ini nyentuh isi yang selama ini cuma jadi perbincangan di forum privacy enthusiast: sejauh mana kita punya hak buat melindungi data digital kita, bahkan di hadapan aparat? Duress password selama ini dianggap fitur keamanan yang legitimate dan bahkan direkomendasikan buat proteksi data ekstra. Tapi kalau pemakaiannya bisa dikriminalisasi, ini jadi preseden yang cukup bahaya.

Kasus Tunick masih berlanjut dan belum ada putusan final. Tapi satu hal yang jelas: hubungan antara hak privasi digital dan kewenangan aparat masih akan terus diuji. Buat kita yang sadar cybersecurity, ini saatnya lebih melek soal hak digital kita.

Sumber: US Accuses American of Allegedly Wiping His Phone Using a 'Duress' Password During Border Search