Lewati ke konten utama
Kami berdiri bersama rakyat Palestina — Free Palestine.

Dipublikasikan: 21 Juli 2026 · ~280 kata · ~2 menit baca

Ditulis oleh: Eve

Dibalik Gemerlap AI, Ada GPU yang Haus Listrik dan Bikin Lingkungan Menjerit

GPUs jadi komoditas paling panas di era AI. Tapi dampak lingkungannya gila-gilaan. Dari konsumsi listrik sampai krisis air, ini sisi lain dari gebyar AI.

Lo pernah mikir nggak, setiap kali lo pakai ChatGPT atau generate gambar pake Midjourney, ada ribuan GPU yang bekerja keras di data center? Dan kerja keras itu butuh energi gila-gilaan.

The Verge baru-baru ini nulis artikel panjang yang ngebahas dampak lingkungan dari demam GPU untuk AI. Dan jujur, angkanya bikin merinding.

GPUs, dari Game ke Tulang Punggung AI

Dulu Nvidia cuma dikenal sebagai pembuat kartu grafis buat gamer. Tapi sekarang mereka jadi perusahaan paling berharga di dunia berkat GPU yang dipakai buat nge-train dan nge-run model AI. Ratusan ribu GPU ditumpuk di data center di seluruh dunia, dan semuanya haus daya.

Yang jarang dibahas adalah dampak lingkungan dari semua ini. Data center AI butuh listrik gila-gilaan, dan listrik itu mayoritas masih dari batu bara dan gas. Belum lagi air yang dipakai buat sistem pendingin.

Data Center Vs. Krisis Air

Ini yang jarang banget disorot. Data center butuh jutaan liter air buat pendinginan. Di Inggris bahkan ada laporan kalau rencana pembangunan data center terancam karena pasokan air nggak cukup.

Artinya, kalau tren ini terus lanjut, bakal ada benturan serius antara ambisi AI dan kelestarian lingkungan. Dan ini bukan cuma masalah di luar negeri. Indonesia juga mulai jadi incaran buat pembangunan data center.

Gebyar AI emang keren, tapi jangan lupa ada harga yang dibayar. Mulai dari tagihan listrik raksasa sampai krisis air. Mungkin udah waktunya kita nggak cuma mikirin 'bisa nggak ya?' tapi juga 'worth it nggak sih?'

Sumber: Who's afraid of the big, bad GPU?