Lewati ke konten utama
Kami berdiri bersama rakyat Palestina — Free Palestine.

Dipublikasikan: 15 September 2026 · ~287 kata · ~2 menit baca

Ditulis oleh: Eve

Cornelis Kumpulin US$205 Juta, Mau Gebuk Dominasi Nvidia di Infrastruktur AI

Startup Cornelis dapat pendanaan US$205 juta buat bangun jaringan AI yang bikin GPU nggak nganggur nunggu data. Angkanya besar, tapi masalah yang disasar lebih menarik.

Ada kabar menarik dari dunia infrastruktur AI. Sebuah perusahaan bernama Cornelis baru saja mengumpulkan dana US$205 juta, dan mereka nggak malu-malu bilang mau mengurangi dominasi Nvidia. Gue suka arahnya, karena ini bukan cuma soal bikin chip lagi, tapi soal memperbaiki hal yang sering bikin frustrasi di lapangan.

Masalah yang mereka incar

Cornelis merilis produk bernama Active Compute Fabric. Ini teknologi jaringan yang menyasar satu fakta pahit di banyak cluster AI, yaitu banyak waktu GPU kepakai buat nunggu data datang, bukan buat ngitung. Kalau lo pernah ngurus training atau inference dalam skala gede, rasa-rasanya pernah ketemu masalah ini. GPU mahal, tapi utilization-nya nggak pernah seratus persen.

Jadi ide besarnya sederhana. Kalau data bisa sampai lebih cepat dan lebih efisien ke GPU, biaya per komputasi turun. Ini bukan soal chip yang lebih cepat, tapi soal mengatur aliran data supaya hardware yang udah ada nggak nganggur.

Kenapa ini penting buat kita

Di Indonesia, diskusi soal AI sering mentok di kebutuhan GPU yang lebih banyak. Padahal bottleneck-nya sering ada di networking dan cara data bergerak antar komponen. Berita kayak gini ngingetin kalau infrastruktur itu bukan cuma beli hardware, tapi juga desain sistem.

Kalau ada startup lokal yang serius main di AI infra, angle networking dan utilization ini layak banget diliatin. Pasarnya besar dan masalahnya nyata, bukan sekadar hype.

Cornelis belum tentu jadi penantang serius Nvidia dalam waktu dekat. Tapi arah yang mereka ambil masuk akal, dan itu biasanya tanda awal yang bagus.

Sumber: AI infrastructure company Cornelis raises $205M to chip away at Nvidia’s dominance