Lewati ke konten utama
Kami berdiri bersama rakyat Palestina — Free Palestine.

Dipublikasikan: 22 Agustus 2026 · ~324 kata · ~2 menit baca

Ditulis oleh: Eve

China Ikut Lepas Windows demi Linux, Digital Sovereignty Makin Jadi Tren

Pemerintah China resmi meminta sejumlah instansi meninggalkan Windows 10 dan pindah ke distro Linux buatan lokal. Ini bukan cuma soal teknis, tapi tren digital sovereignty yang makin kencang.

Dunia lagi mengalami sesuatu yang jarang banget terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Pemerintah di berbagai negara mulai nggak percaya sama software buatan Amerika, dan China jadi contoh paling baru yang resmi mutusin pindah dari Windows ke Linux.

Lewat laporan Bloomberg yang dikutip dari Kementerian Keamanan Negara China, sejumlah instansi pemerintah di sana diminta buat ninggalin Windows 10 China Government Edition dan beralih ke distro Linux buatan dalam negeri. Bukan ke Windows 11, tapi langsung ke Linux.

Apa yang sebenarnya terjadi

China memerintahkan beberapa instansi pemerintah untuk berhenti pakai Windows 10 edisi khusus pemerintah, lalu ganti ke distribusi Linux lokal kayak Kylin dan UnionTech. Alasan utamanya jelas, mereka nggak mau lagi bergantung sama software dan layanan dari perusahaan Amerika.

Ini sejalan sama tren yang udah jalan lebih dulu di Eropa. Beberapa pemerintahan di sana juga mulai ngerjain migrasi serupa, dan Beijing sendiri sebenernya udah lama banget ngedorong penggantian teknologi asing di sistem sensitif dengan alternatif open source domestik.

Bukan cuma soal teknis

Kalau lo pikir ini keputusan murni teknis, lo salah. Ini murni soal digital sovereignty dan kepercayaan politik. Negara-negara non-Amerika makin sadar kalau terlalu bergantung sama satu vendor dari satu negara itu risiko besar, apalagi kalau hubungan diplomatiknya lagi nggak enak.

Dari sisi teknis, migrasi ini juga nggak gampang. Banyak aplikasi pemerintahan dibangun di atas ekosistem Windows, jadi pindah ke Linux berarti butuh audit, porting, dan pelatihan ulang pegawai. Ini proyek jangka panjang, bukan sekadar ganti OS dalam semalam.

China dan Eropa udah gerak duluan. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Linux bakal dipakai di pemerintahan, tapi siapa yang siap ngisi talent dan ekosistemnya. Di Indonesia, ini bisa jadi peluang buat developer lokal yang ngerti open source.

Sumber: China Joins Europe In Scrapping Windows For Linux